Alhamdulillah banyak yang minta lanjut cerbung gue ini. Dan sekarang gue bakal post Part 2 nya. Sokin cynnnn!
Happy Reading!
"Raffi... Raffi..." Entah kenapa nama dia yang aku panggil saat aku siuman.
"Gigi? Lo bangun?" aku mendengar suara Raffi walaupun aku belum sadar sepenuhnya.
Dokter pun datang dan memeriksa keadaanku. Lalu keluar bersama Raffi. Entah apa yang mereka bicarakan.
Aku gatau kenapa bisa disini. Saat aku sadar tadi, aku hanya ingat sedang berjalan di lobby kampus untuk menuju kelasku selanjutnya, tapi tiba-tiba semuanya gelap.
"Kok gue bisa di sini?" tanyaku yang mulai sadar sepenuhnya.
"Maag lo kambuh. Tadi lo pingsan di lobby kampus. Makanya kalo di bilangin tuh nurut." omel Raffi.
Aku berpikir dia seperti orang tuaku haha.
"Sekarang lo makan" seru Raffi yang kembali ke ruanganku.
"Tapi..."
"Gak pokoknya makan!" seru Raffi ketus.
Raffi mengambil makanan ku yang sudah tersedia, dan ingin menyuapkannya padaku.
"Gue bisa makan sendiri" kataku.
"Diem gak? Gue bilang mama nih ya." Oh, berarti mama belom tau keadaan aku sekarang.
"Udah gue bilang, kalo disuruh makan nasi ya makan. Siang juga ga makan kan lo" Raffi tau darimana?!
"Gue siang tadi makan kok" elakku. Aku bohong. Sebenarnya aku juga tidak makan siang tadi.
"Halah ngeles aja lo. Kalo lo makan ga bakal kambuh kayak gini. Nyusahin tau ga?"
Aku tatap sinis Raffi.
"Gak perlu ngurus gue gini juga gapapa kok. Gue juga gak minta" ujarku.
"Mau di apain gue sama Mama kalo biarin lo"
"Percuma tapi kalo ga ikhlas"
"Becanda elah lo." kata Raffi sambil mencubit pipiku. Ini juga hobbynya.
Sekarang hanya ada Raffi disampingku, aku gatau apa mama udah tau keadaanku atau belum. Tapi kata Raffi tadi mama belum tau. Oh.... I hope it's true. Tapi tiba-tiba....
"Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumsalam..." jawab Aku&Raffi.
OH GOD! Mama Rieta, Mama Amy, Caca, Nissya dan Syahnaz datang.
"Duh Gigi kenapa bisa gini? Pasti deh telat makan. Affi, tadi pagi jadi makan gak?" Terlihat cemas di raut wajah Mama.
Aku menatap Raffi sinis. Good boy! Dia bilang tadi kalo Mama gatau keadaanku, dan taunya sekarang Mamaku ada di depan mataku.
Raffi membalas tatapan sinisku dengan senyum SOK GANTENG miliknya. Huft....
Bukan apa-apa, aku cuma gamau mama khawatir sama keadaanku.
"Tadi pagi makan kok ma, tapi tuh Gigi nya aja yang bandel. Affi suruh makan nasi dia malah makan kentang" jelas Raffi.
"Pagi makan kentang, siangnya?"
"Tadi kata Kia dia siang ga makan" jawab Raffi.
Ou great! Sekarang dia membocorkan semuanya. Aku merasa mataku sudah mencuat 5cm dari tempatnya.
"Kenapa gak Affi ajak makan? Gimana sih Affi" ujar Mama Amy.
"Tau lo a, gimana sih" Nanaz (panggilan akrab Syahnaz) adik Raffi ikut menyalahkan.
Hahaha aku senang! Dan menatap Raffi dengan tatapan 'emang enak lo di salahin'
Ku lihat Raffi diam menundukkan kepalanya.
"Udah yang penting Gigi sekarang gapapa. Gavrel gak ikut?" Akhirnya aku angkat bicara. Kasihan juga Raffi sudah kehabisan argumen haha.
"Enggak, udah kemaleman" jawab Caca, adik ku.
Lalu kami mengobrol hangat malam itu.
-21:00-
"Ca, lo disini ya temenin gue" pintaku pada adikku.
"Yah gak bisa, besok gue ada Lab SI di kampus pagi-pagi" ujar Caca.
Haft... Caca gabisa.
"Yah tega. Mama aja deh, ya ma?" pintaku lagi.
"Ya gabisa dong, besok Gavrel sekolah gimana. Lusa baru deh mama disini. Kamu sama Affi aja dulu ya" jawab Mama Rieta.
Yeah! Dugaan ku benar. Pasti Raffi yang akan menjagaku malam ini.
"Gamau ah Raffi rese" Aku meliriknya.
"Ye siapa juga yang mau nemenin lo hu!" Raffi menimpali.
"Heh Affi!!!" Mama Amy menegur Raffi.
Yeahaha Raffi kena lagi.
"Ya lagian Gigi nya tuh" ku dengar nada membela di ucapannya tadi.
"Kayak anak kecil aa ih" timpal Nissya.
3 kali Raffi kena hahahaha. Aku hanya memberikan tatapan meledek kepadanya.
"Udah aa disini aja" ujar Caca.
"Iya aa sebenernya seneng kan disuruh temenin Mba Gigi disini" Syahnaz menambahkan.
What?!
"Apaansi nas. Gausah sok tau deh kamu. Siapa juga yang seneng nemenin orang bawel."
"Sttt... Udah ah Affi apaan deh. Kayak anak kecil aja begitu. Diem-diem kamu kan emang udah sayang sama Gigi dari dulu." Mama Amy ikut mengompori.
Oukay! Aku berharap aku budeg saat itu juga.
"Hahahaa.... Yaudah jagain ya Fi. Makan sama minum obat nya jangan lupa. Dia gak bakal mau ngelakuin sendiri" pesan Mamaku.
Itu lah Mamaku. Terlalu cemas.
"Iyadeh. Ma, nanti bilangin ke Pak Roney aja anter baju Affi ke sini"
"Iya"
Mama Amy, Mama Rieta, Caca, Nissya dan Syahnaz pun pulang. Dan sekarang, tinggal aku dan Raffi lagi. It's so boring!
"Tidur lo sana!" perintah Raffi, ketus.
Aku heran, apa dia di lahirkan dengan pita suara yang bernada ketus? Oke pemikiran yang bodoh.
"Gak ngantuk, lo duluan aja"
"Gue juga gak ngantuk" Raffi kembali duduk di bangku sebelah ranjang ku.
"Kenapa lo? Kok bisa pingsan?"
"Au" jawabku ketus.
Aku masih kesal karna dia membocorkan semuanya ke Mama.
"Dih, di tanya baik-baik malah kayak gitu. Yaudah." Raffi langsung berdiri dan berjalan ke arah pintu keluar.
Aku hanya diam menatapnya, apa dia mau keluar?
Dan benar saja, dia keluar. Meninggalkan ku sendirian dikamar. Salah ku juga sih diemin dia.
Aku gak bisa lama-lama sendirian, apalagi di rumah sakit. Oke, telpon Raffi! Baru saja aku ingin menelpon Raffi, ternyata handphone Raffi pun tertinggal di meja.
Damn!
Tiba-tiba alarm hp Raffi bunyi. Lah si Raffi, alarm apaan malem-malem gini. Aku mengambil hp Raffi dan mematikan alarmnya. Otomatis layar hp berpindah ke lockscreen....
Wow!
Terpampang foto aku&Raffi. Iseng, ku buka kunci hpnya karna memang aku tau passwordnya. Layar menunjukkan homescreen...
And, amazing!
Fotoku terpampang di homescreennya! Aku merasa pipiku merah. Tapi, mengingat tentang kebohongan Raffi tadi, aku langsung jengkel lagi.
Aku meletakkan kembali hp Raffi, lalu tidur.
>>>>>
Aku terbangun dari tidurku. Ku lirik jam, 04:55. Ku lihat Raffi sedang solat. Setelah salam, ia berdoa.
Ini yang buat aku salut sama dia. Gak pernah lupa ibadahnya.
Dia melihat kepadaku.
"Solat gih, tayamum aja" sarannya.
Aku mengangguk kecil, dan melakukan tayamum.
Raffi membantuku mengambil&memakaikan mukena. Lalu aku solat di atas tempat tidur.
Selesai solat, Raffi kembali membantuku melepaskan&merapihkan mukena yang ku pakai.
"Tidur lagi aja" ujarnya, sambil menyelimutiku.
Lalu dia duduk di kursi yang dia tarik di sebelahku.
Tanpa terasa aku tertidur.
-07:30-
Aku kembali terbangun dari tidurku. Melirik ke Raffi, ada rasa iba sekaligus salut juga. Daridulu emang dia yang selalu ada untukku. Sekarang dia tidur dengan posisi duduk, padahal kamar rawat inapku tersedia satu tempat tidur kecil untuk keluarga pasien.
Aku baru sadar, ternyata tanganku dan Raffi saling menggenggam erat satu sama lain.
Aku memandangnya.
Tiba-tiba Raffi terbangun dari tidurnya,
"Eh lo udah bangun?" tanya Raffi sambil mengerjapkan matanya.
Aku yang kaget langsung melepaskan genggaman tangan Raffi.
"Yaelah gak di lepas juga gak papa. Masih kaku aja udah dari kecil kenal sama gue"
Mungkin Raffi menyadari reflekku tadi.
Aku menatapnya heran.
Raffi pergi ke kamar mandi, aku kira dia mandi. Ternyata hanya membasuh mukanya dan menggosok gigi. Lalu mengambil makananku yang sudah tersedia di meja.
Aku hanya diam melihat tingkahnya.
"Nih minum" ucap Raffi sambil membantuku setengah duduk.
"Aaaaa...." Raffi menyuapiku.
Aku hanya menurut. Malas berdebat.
"Nah gini kalo mau sembuh tuh nurut" ceramah Raffi.
Selama makan, aku hanya diam. Sampai selesai makan pun aku diam.
"Kenapa si diem mulu. Biasanya bawel" mungkin Raffi merasa aneh dengan sifat pendiamku.
"Lo kasih tau kan ke mama kalo gue sakit?" Ini yang membuat aku jengkel.
"Iyalah. Kan udah perjanjian, siapa suruh lo sakit. Udah gue bilang makan nasi lo malah gak mau, yaudah." jelasnya.
Aku hanya diam mengingat perjanjianku dengan Raffi kemarin. Yah sudahlah aku bisa apa...
"Lagian sok gak makan nasi, siangnya juga gak makan"
Aku diam lagi. Terasa lelah untuk berbicara.
Beberapa menit kemudian, datang suster dan dokter rumah sakit memberikan obat kepada ku sekaligus memeriksa keadaanku.
Setelah itu sedikit berbincang dengan Raffi di luar ruang ku.
Tak lama, Raffi masuk lagi.
"Apa kata dokter?" tanyaku. Berharap ada kemungkinan aku cepat pulang.
"Lambung lo belom stabil"
Huft, dugaan ku kali ini salah.
Aku melihat Raffi mengambil anduk, mungkin untuk mandi.
Selesai mandi ia kembali duduk sambil memainkan handphone nya.
"Mama gak kesini?" tanya ku. Aku sudah mulai bosan hanya berdua dengan Raffi. Berharap ada orang yang datang.
"Gatau" jawabnya singkat.
"Coba tanya" pinta ku.
"Yaudah tanya aja" ku lihat Raffi masih asik berkutat dengan hpnya.
"Raffi ih..." Aku mulai ngambek. Haha so childish.
"Hhhh... Iya iya"
Raffi pun menelpon Mama Rieta & Mama Amy.
"Mama Rieta ntar sore, Mama Amy ada urusan jadinya hari ini kayaknya gak bisa dateng, tapi nanti siang Caca, Syahnaz, sama Nissya kesini" jelas Raffi.
"Oh yaudah"
Aku berharap mereka cepat datang.
Raffi kembali memainkan hpnya. Dan aku benar-benar merasa bosan, daritadi hanya mengganti-ganti channel tv, tidak ada yang menarik.
"Fi....." Panggil ku.
Tidak ada jawaban dari Raffi.
"Raffi...."
Raffi masih asik dengan hpnya.
"RAFFI IH!!!" Aku berteriak.
"Astaghfirullah....Apa sayangkuuu cintaaaa? Bikin kaget aja" ucap Raffi.
"Gue bosen" jawabku singkat.
Raffi terdiam sejenak, lalu keluar kamarku. Beberapa menit kemudian kembali membawa kursi roda.
"Bosen? Buruan bangun" Raffi membantuku bangun dari tempat tidurku, lalu mendudukan ku di kursi roda yang ia bawa.
Aku nurut saja. Ya mungkin dia mau bawa aku ke suatu tempat yang bisa menurunkan tingkat kebosananku.
Raffi membawa ku ke taman rumah sakit.
"Lo kan bosen, yaudah mumpung gue lagi baik, gua ajak jalan-jalan"
Raffi kesambet angin apa? Hah sudahlah, yang penting aku keluar sebentar dari kamar ku. Raffi berjalan sambil mendorong kursi rodaku dari belakang.
Lalu kami berhenti di salah satu kursi. Raffi duduk disana.
"Gue inget dulu kita juga sering main ke taman" Raffi mulai flashback masa lalu nya bersamaku.
"Tapi bukan taman rumah sakit kayak gini" aku menambahkan.
Ya, dulu aku dan Raffi sangat sering ke taman.
"Gue kangen main di taman lagi Fi" jujur ku.
"Makanya lo sembuh, abis lo sembuh gue janji akan bawa lo ke taman" janji Raffi.
"Bener ya?"
"Iya"
Mendengar itu aku sangat senang.
Kami pun jalan-jalan mengelilingi taman. Setelah puas, kami kembali ke kamar.
Sesampainya dikamar...
To Be Continued.
Hayo ada siapa di kamar inap Gigi ya?
Gimana part 2 nya? Masih mau di lanjut? Komentarnya jangan lupa ya guys! Thanks for reading and i hope u like it!:)
This is just fanfiction. No baper yaaaaps! Di bikin asik aja cynnnn!:)
pliisss...next secepatnya ya.. :)
BalasHapusDitunggu kelanjutannya,,, ini ceritanya seru,
BalasHapusAsik di baca mbakris hehehe tunggu ya nextnya
BalasHapusDitunggu kelanjutanyaaa 😊
BalasHapusNext gak pakai lama.
BalasHapusHemmm..ahhh aa perhatian banget sie.. jadi iri liat nya hahaha
BalasHapusKadi gak sabar nunggu lanjutan part selanjutnya kekoplakan and keromantisan Couple Kesayangan..di tunggu..low
next ya.!!! Seru..
BalasHapusmana kelanjutanya?? penasaran nich
BalasHapus