Kamis, 20 Agustus 2015

You're My Future: Part 6.

Haiiiii! 

Duhhh maaf yaaaa maaf bgt gue lama ngepostnya. Gue juga mulai susah bagi waktu buat sekolah, ngerjain tugas, online, les hehhhh. Maklumlah anak baru masuk SMA belom bisa adaptasi sama Kurikulum 2013, dan itu bener-bener duhhhh........ SUSAH COY! NYIKSA! Kan jadi curhat. Maafkan hamba. Oke yang udah nungguin cerbung gue, ini gue bawa "You're My Future: Part 6" 

Yuk sokiiiin! Happy reading guys!


Aku berjalan ke arah kerumunan orang. Semua membuka jalan untukku. Sampai aku di tengah-tengah. Terdapat banyak sekali bunga, dan bertuliskan 'GIGI, WOULD YOU BE MY GIRLFRIEND?'

Aku tambah heran. Siapa yang buat ini semua? Raffi?

Bukan, melainkan...

Kelvin.

"Kelvin?" 

"Aku yang buat ini semua. Jadi gimana? Would you be my girlfriend, Gi?" Tanya Kelvin.

Aku bimbang. Di satu sisi, aku memang ada sedikit rasa ke Kelvin. Tapi, kembali ke perjodohanku dengan Raffi. Sekarang pun aku mulai akur & sayang sama Raffi. Di tambah aku sudah mulai akur akhir-akhir ini dengan Raffi. Tapi, mana mungkin aku menolak orang yang sudah membuat ini rapih-rapih? Walaupun tidak sepenuh hatiku untuk Kelvin. Aku memutuskan untuk memaksa menerimanya. Lantaran agar menjaga nama baik Kelvin.

"Yes...." Jawabku pelan.

Kelvin memelukku. Aku lihat Raffi di antara banyaknya mahasiswa/i yang menyaksikan kejadian ini. Saat dia menyadari aku melihatnya, ia pergi. Ada rasa bersalah di hatiku.

Tapi aku juga menjaga nama baik Kelvin. Tidak mungkin aku tolak dia di depan umum seperti itu. Dan sekarang, aku gatau Raffi kemana.

"Yuk pulang" ajak Kelvin kepada ku.

"Gak bisa. Kan lo tau gue harus pulang sama Raffi" jawabku sambil terus menelpon Raffi. Tapi hasilnya nihil.

"Raffi nya kan juga gak ada. Bareng aku aja" Kelvin tetap memaksa.

"Gabisa Kelv!" Ujarku mulai kesal.

"Gi, aku ini pacar kamu" ku dengar nada bicara Kelvin ikut meninggi.

Aku gak peduli. Karna dia sudah tau aku harus pulang&pergi bersama Raffi, tapi dia tetap maksa.

Setelah berkali-kali ku coba telpon Raffi, akhirnya Raffi datang dengan mobilnya.

"Raffi lo kemana aja sih?" tanyaku.

"Udah buruan masuk" 

Selama di perjalanan, aku & Raffi saling diam. Aku tau kenapa Raffi bersikap seperti ini. Ingin rasanya aku ungkapkan semuanya. Tapi, lidahku terlalu kelu.

Sesampainya di rumahku, Aku turun dari mobil Raffi.

"Fi? Maaf..." Ujarku pelan.

Raffi hanya diam dan langsung menancap gasnya.

>>>>>

Esoknya, aku mendapat kabar dari Mama Amy kalau Raffi sakit dan tidak ke kampus. Akhirnya, hari ini aku berangkat kampus bersama Caca dan pacarnya Caca, Barry.

Sesampainya di kampus...

"Hai Gi" ucap Kelvin.

Aku hanya tersenyum kecil.

"Kamu sama siapa tadi?"

"Adik aku" jawabku singkat. Entah kenapa ada rasa malas meladeni pembicaraan Kelvin pagi ini.

"Ohh.. Kok gak sama Raffi?"

"Sakit"

"Sakit? Bagus deh..." Gumam Kelvin. Aku mendengarnya!

"Apa?! Bagus? Gila ya!" Ujarku spontan.

"Heh? Eng... Engga maksud aku, bagus deh kamu berangkat sama adek kamu gitu" 

"Kenapa kamu gak minta aku jemput aja?" Lanjut Kelvin.

"Hhh..." Aku terasa lelah untuk menjawabnya lagi. 

Aku langsung berlalu.

"Loh... Gi...." Kelvin mengejarku.

"Kenapa sih kamu?" Tanya Kelvin.

Aku capek sama semua pertanyaan Kelvin daritadi.

"Lo yang kenapa. Nanya mulu. Kan udah sering gue bilang kalo gue harus bareng Raffi. Gak boleh bareng yang lain. Kecuali kalo Raffi emang gak bisa jemput, boleh sama keluarga." Jelasku ketus.

"AKU PACAR KAMU!" Bentak Kelvin.

Aku kaget. Seketus-ketusnya Raffi, sejutek-juteknya dia aku gak pernah sampe di bentak kayak gini, apalagi di depan umum.

"Udahlah, aku mau masuk kelas dulu" ujar ku dengan nada merendah.

-14:30 WIB, Kampus.-

"Mana si Raffi? Kok gak keliatan?" Tanya Kia kepadaku.

"Sakit. Gak masuk dia" 

"Loh tadi lo sama siapa berangkat?"

"Sama adik gue" jawabku.

"Pulang?" Tanya Jeje.

"Adik gue lagi. Nah itu dia, gue duluan yaaa. Mwah mwah" setelah bercipika-cipiki dengan teman-temanku. Aku menuju mobil Caca dan pacarnya.

Gimana ya keadaan Raffi? Apa sekarang aku jenguk dia aja kali ya? Ah tapi nanti aku malah di cuekkin lagi. 

Sesampainya dirumah...

"Assalamu'alaikum..." Ucapku memasuki rumah.

"Waalaikumsalam.." Jawab Mama.

Ku lihat beliau sedang asyik berdandan.

"Yuk Gi" ajak Mamaku.

"Kemana? Gigi baru aja sampe" tanyaku.

"Jenguk Raffi dooong" 

"Capek ma"

"Udah ayok gaboleh gitu" 

"Yaudah Gigi ganti baju dulu"

"Gausah, begitu udah cantik. Yuk"

Mamaku langsung menarikku. Kita berdua menuju rumah Raffi.

Sesampainya di rumah Raffi...

"Assalamu'alaikum..." ucapku dan Mama.

"Wa'alaikumsalam..." ucap Mama Amy dan Nissya.

Setelah sedikit berbincang, aku bertanya

"Raffi mana ma?" 

"Di atas tuh. Katanya gak enak badan. tapi dari tadi pagi dia gak mau di suruh keluar kamar"

Aku terdiam. Apa karna hubungan aku&Kelvin Raffi sampe kayak gini?

"Coba deh Mbak Gigi ke kamar Aa" saran Nissya.

Aku mengangguk kecil, menuju dapur mengambil makan untuk Raffi dan pergi ke  kamar Raffi di lantai dua.

Ku ketuk pelan pintu kamar Raffi. Tidak ada jawaban.

"Raffi? Fi?"

Masih belum ada jawaban.

"Raffi gue masuk ya? Buka dong kuncinya" pintaku.

"GAK!" kudengar bentakan Raffi dari dalam.

"Please...." harapku.

"GUE GAMAU DIGANGGU" bentak Raffi lagi.

"Oke lo boleh benci sama gue! Tapi jangan sakitin diri lo sendiri Fi. Please. Gue cuma mau kasih makanan&obat ke lo dan gue harap lo makan ini"

Tidak ada suara apapun.

Tiba-tiba ku dengar suara kunci terbuka. Raffi membuka pintunya sedikit. Mengambil nampan yang ku bawa. 

"Fi ma--" belum selesai aku bicara, Raffi langsung menutup pintu dengan kencang.

Hhhh..... Okelah, yang penting dia udah mau ambil makanannya.

Aku kembali ke bawah.

"Gimana? Mau Raffi nya?" tanya Mama ku.

"Dia cuma ambil makanan sama obat yang Gigi kasih. Tapi tetep aja dia gamau di temuin sama siapapun" jawabku pasrah.

"Kamu ada masalah sama dia ya?" tanya Mamaku.

Aku hanya diam. Menggeleng sedikit.

Kami melanjutkan perbincangan.

>>>>>
 
3 Hari berselang.

Pagi ini aku dapat kabar dari Mama Amy kalo Raffi sudah sehat kembali. Dan seperti biasa aku berangkat kampus bersama Raffi.

-Perjalanan menuju kampus-

"Fi... Gue ma----" ucapanku terpotong.

"Ohya congrats deh ya udah jadian sama Kelvin. Haha." ujar Raffi, nadanya sinis.

"Tapi gu---" 

"Udahlah kalo cinta sama dia yaudah. Lagian gue juga udah sama Cindy"

DEG! Apa bener Raffi udah sama Cindy? Sedangkan aku nerima Kelvin cuma karna ngejaga nama baik dia di depan umum doang.

Setelah parkir mobil, Aku & Raffi berjalan menuju lobby kampus. Ada Cindy di depan lobby kampus.

"Hey sayang" ucap Raffi kepada Cindy.

Aku menoleh sejenak. Lalu diam melihat mereka.

"Kamu udah sembuh beb?" tanya Cindy pada Raffi.

Tiba-tiba datang Kelvin.

"Hai Gi" Kelvin langsung merangkulku.

"Hai. Langsung masuk aja yuk" balasku pelan.

Aku memutuskan langsung masuk ke lobby dengan Kelvin.

>>>>>

-12:46-

Jam kosong. Baru ada nanti jam setengah 2. Kia sama Jeje mana ya? Aku melihat mereka berdua di lantai dua. Aku lambaikan tanganku pada mereka. Seakan tau maksudku, mereka turun menemui ku di lobby.

"Eh, gue mau cerita nih. Tapi laper juga. Racinta (cafe) aja yuk" ajak ku.

"yuk" 

Kami bertiga pun pergi ke RACINTA CAFE.

Setelah memesan makanan, aku memulai ceritaku.

"Je, si Raffi sama Cindy udah jadian ya?" tanya ku pada Jeje. Karna aku tau, Jeje punya teman yang berteman baik dengan Cindy.

"Dari yang gue denger dari temen gue sih ya, belum Gi" jawab Jeje.

"Ehiya, btw lo kenapa nerima Kelvin? Padahal beberapa hari sebelum lo jadian sama Kelvin gue liat post-an instagramnya Raffi deh."

"Post-an instagram Raffi? Yang mana?" tanyaku. Aku tidak melihat post-an Raffi di Instagram.

"Yang bareng lo di dufan loooh. Di bianglala dia cium pipi lo kok. Terus captionnya love-love gitu. Gue kira lo udah jadian sama dia. Lagian tumbenan aja akur." kata Kia.

"Iya biasanya kan Raffi kalo ngepost foto sama lo di instagram captionnya aneh-aneh gitu gapake love-love" tambah Jeje.

"Jadi gini, pas di Dufan Raffi emang udah ngungkapin perasaannya ke gue. Dan sekarang gue ngerasa bersalah banget sama Raffi. Gue nerima Kelvin tuh cuma buat jaga nama baik dia doang. Gak mungkin kan gue tolak dia di depan temen-temen satu kampus. Nah makanya gue mau coba ngomong sama Raffi. Tapi dia gak pernah mau dengerin penjelasan gue" curhatku pada Kia dan Jeje.

"Bentar Gi, jadi sebenernya lo sayangnya sama Raffi atau Kelvin?" tanya Kia.

Nah itu dia! 

"Kalo sayang sama Raffi mah dari kecil Ki udah gue anggep kayak kakak gue" jawabku.

Tapi aku gatau kalo perasaan sayang sekarang ini apa masih kakak/sahabat? atau beda?

"Jadi sebenernya lo gak mau jadian sama Kelvin? Cuma terpaksa?"

"Kalo jadi lo sih, gue juga gak bakal mempermalukan cowok di depan umum gitu, Gi."

Aku mengangguk.

"Sampe kapan lo mau pura-pura terus?" 

"Hm... Ya kalo nanti bisa, pasti gue omongin"  jawabku.

"Tapi gue takut karma Ki, Je" aku menundukkan kepalaku.

"Asal lo bilang jujur ke Kelvin&Raffi. Bismillah aja" Kia menguatkanku.

Seenggaknya aku mulai tenang sekarang.

"Eh, gue ada jam nih sebentar lagi" ujar Kia.

"Ohiya gue juga ada. Yaudah yuk. Makasih ya kalian udah denger cerita gue" ucapku sambil memeluk sahabat-sahabatku.

"Sama-sama"

>>>>>

"Hai Gi" terlihat Kelvin di depan pintu lobby.

"Hai" jawabku.

"Kamu sama Raffi kan?" tanya Kelvin.

"Iya. Mana ya dia. Sebentar aku mau telpon dia dulu"

Aku menelpon Raffi.

-On Phone-

R: "Ha?"
G: "Lo dimana?"
R: "Di Racinta. Lo kesini aja" 
G: "Yaudah gue kesana"

-Off Phone-

"Kelv, Raffi di cafe. Aku mau kesana, kamu mau ikut?" tanyaku berusaha sebaik mungkin terhadap Kelvin.

"Right" tangan Kelvin menggandengku.

Kami berjalan menuju Cafe.

-RACINTA CAFE-

Aku&Kelvin memasuki Cafe. Terlihat Raffi bersama Cindy sedang suap-suapan disana. Hhh....

"Kamu mau makan dulu?" tanya Kelvin.

"Iya deh. Laper juga" 

Aku&Kelvin memilih tempat duduk tidak jauh dari Raffi. Raffi melirik kepadaku. Aku melirik kepadanya. 

Di saat aku&Kelvin masih makan, Raffi menghampiri mejaku.

"Ayo pulang" seru Raffi padaku.

"Dia belom selesai makan bro!" bela Kelvin.

"Gausah ikut campur lo! Lama bgt si. Ayo cepet" 

"Kalo nanti maag gue kambuh, salah lo ya?" ancamku.

Ku lihat Raffi diam.

"Yaudah. Gue anter Cindy, nanti gue balik lagi ke sini. Lo jangan kemana-mana" seru Raffi.

Aku mengangguk. Aku yakin Raffi tidak akan main-main dengan penyakit maag ku.

Beberapa saat kemudian, aku telah selesai makan dan Raffi juga sudah datang menjemputku. Kami pun pulang.

Esok harinya...

Di perjalanan menuju kampus...

"Hm, Fi. Nanti lo balik jam berapa?" tanyaku pada Raffi.

"Kalo dosen masuk semua, jam 1"

"Oke. Nanti gue mau ngomong sesuatu penting ke lo" 

"Iya. Gue juga mau nunjukkin sesuatu ke lo" 

What?! Raffi mau nunjukkin apa ya ke gue?

"Jam 1 gue tunggu di taman kampus" seru ku.

>>>>>

-Taman Kampus, 13:00-

Aku udah di taman kampus, tinggal nunggu Raffi. Sekarang aku mau ngejelasin semuanya ke dia tentang aku&Kelvin. 

Hm... Raffi mana ya? Belom keluar mungkin. Tiba-tiba hp ku berdering, Raffi.

-On Phone- 

R: 'Gue tunggu di lobby kampus sekarang' 

Lobby kampus? Ada apa ya?!

To Be Continued....

Hayo?! Kira-kira apa yang mau di tunjukin sama Raffi ke Gigi ya? Kira-kira Raffi Gigi bakal baikan? Atau sebaliknya? Tunggu part selanjutnya yaaaa! Jangan lupa comment ya! Thankyou buat yang udah baca! :)

www.twitter.com/chalifiaaa

Senin, 10 Agustus 2015

You're My Future: Part-5.

Helloooo!

Gue kambekkk! Hohoho.... Dan sekarang gue bawa cerbung gue part-5. Masih ada kan yang mau baca cerbung gue?

Oke sokiiiin! Happy reading!


"Hey" ucap seorang lelaki.

"Loh? Kelvin?" aku kaget melihat Kelvin.

"Sendirian aja Gi?" tanya Kelvin.

"Hm.... Sama Raffi hehe" jawabku.

Ku lihat raut wajah Kelvin berubah seketika saat mendengar nama Raffi.

"Eh lo sendiri sama siapa?" Aku langsung mengalihkan pembicaraan.

"Sama temen gue"

Tiba-tiba Raffi datang.

"Eh elo Kelv, ngapain disini?" Raffi? Ramah sama Kelvin? Aku kira dia bakal marah.

"Tadi ngobrol sebentar doang Fi, gue kesana dulu ya Fi, Gi" jawab Kelvin.

Setelah Kelvin pergi.

"Nih eskrim lo" Raffi menyerahkan eskrim padaku.

"Makasih hehe" aku tatap Raffi dengan heran.

"Kenapa?" tanya Raffi yang sadar dengan tatapan anehku.

"Gak marah?" tanyaku.

"Apa? Hahahaha... Marah? Hahahahahaha" Raffi tertawa, "Enggaklah" 

Okey...

"Kan udah gue bilang, gue gak akan ngekang lagi" ujar Raffi.

"Hm, lo udah jadian sama Kelvin?" tiba-tiba Raffi bertanya seperti itu.

"Enggaklah." jawabku.

"Kenapa gak jadian?" tanya Raffi lagi.

"Hah? Enggak ah" jawabku sedikit salting, "udah ah kenapa ngomongin Kelvin, lo sendiri gimana sama Cindy?" 

"Cindy? Hahaha. Cindy kan cuma mantan gue" jawab Raffi.

"Ya kan bisa balikan lagi. Bukannya semenjak gue sakit lo lebih deket lagi kan sama dia?" ledekku.

"Haha belom waktunya" jawab Raffi, "udah ah kaga asik ngomongin dia. Kepo banget si lo" 

Raffi menyenggol tanganku yang sedang memegang eskrim alhasil eskrimku mengenai hidungku.

"Ck, Raffi ihhhhh" Aku tidak terima dan mengejar Raffi.

"Et, et gabisa gabisa" Raffi masih berlari.

"Raffi ih belepotannnnnn" ujarku, "ngeselin banget si lo" 

"Bawel amat si tuan putriiiiii" Raffi membersihkan eskrim di wajahku menggunakan tissue.

"Sini ah gue bisa sendiri, banyak gombal hidup lo" Kutarik tissue yang di pegang oleh Raffi lalu membersihkan mukaku sendiri.

Tak terasa hari semakin gelap, sudah banyak yang aku & Raffi lakukan di taman.

"Udah gelap nih, mau pulang jam berapa lo?" tanya Raffi.

"Malem aja deh gue masih kangen banget sama taman ini" jawabku.

Taman ini emang slalu bikin aku betah.

Aku mulai ngantuk. 

Lampu-lampu taman pun mulai menerangi remang-remang taman. Kami masih duduk di kursi panjang, dengan menghadap ke langit.

Ku senderkan kepala ku ke pundak Raffi dan tanpa terasa aku tertidur.

>>>>>

Pagi itu hari libur. Caca & Barry mengajakku pergi ke Dufan. Hm.... Udah lama juga sih aku gak ke dufan. Oke aku mengiyakan ajakan mereka.

Sekarang jam 8:30. Tiba-tiba...

"Assalamu'alaikum....." ucap Nissya & Nanas memasuki rumahku. 

Wahhhh ada Nissya sama Nanas. Seru nih rame. Hm, tapi......

Pasti ada Raffi deh. Huf. Sial.

"Assalamu'alaikum" Dan benar saja pemirsah, Raffi datang.

"Ngapain lo?" tanyaku.

"Mau ngapelin lo" jawab Raffi asal.

"Idih... Serius gueeee"

"Lo mau kemana?" tanya Raffi balik.

"Lah di tanya orang malah nanya balik gimana sih lo. Gue mau pergi. Mau apa lo?!" 

"Mau ikut." jawab Raffi enteng.

"Siapa lo main ikut-ikut aja."

"Cowok lo." jawab Raffi asal.

"Ye gila."

Raffi malah mencubit pipiku.

"Apansi Raffi ah..."

Caca & Barry pun datang. "Udah dateng smua kan? Yuk berangkat"

"Kok lo gak bilang Raffi ikut sih Ca?" tanyaku pada Caca.

"Emang lo mau Mbak naik wahana sendirian? Gue sama Barry, Nanas sama Teh Nissya." tanya Caca.

"Ya gak mau sih." 

"Yaudah ayok lama lo." seru Raffi menarik tanganku memasuki mobil.

>>>>>

Kamipun sampai di Dufan.

"Aku mau ketemu temennya Barry dulu." ucap Caca memberitau kami.

"Ohyaudah kita berempat langsung main aja ya. Lo nanti telpon gue aja kalo udah selesai" kataku.

Caca & Barry mengangguk lalu pergi.

"Eh Mbak, aku mau ke toilet dulu sama Nanas ya." kata Nissya.

Trus berarti aku berduaan sama Raffi?

"Oh yaudah kita duluan ya." kata Raffi.

"Eh enggak. Kita tunggu sini aja." elakku.

"Enggak! Aa sama Mbak Gigi duluan ya Nas, Nis" seru Raffi setengah berteriak karna Nanas & Nissya mulai menjauh.

"Yuk ah." Raffi langsung menggandeng tanganku.

"Ngapain lo gandeng-gandeng?"

"Dari pada gue gandeng cewe lain ntar lo cemburuuuu." kata Raffi sambil mencolek daguku.

"Engga ish. Udah ayo ah lama deh." seruku.

Kamipun berjalan menyusuri wahana permainan.

"Histeria tuh!" seru Raffi.

"AH ENGGAK! Lo mah baru dateng langsung yang ekstrim." elakku.

"Ye bilang aja takut kan lo." ledek Raffi.

"Enggak tuh!" 

"Halah. Kalo gak takut ayo naik." ajak Raffi. "Kita bikin perjanjian, nantikan pasti di atas ada yang foto. Nah, siapa yang merem di foto itu berarti kalah."

Hm.... Lumayan ekstrim juga sih tantangan Raffi. Secara aku takut ketinggian.

"Ok deal! Yang kalah apa hukumannya?" tanya ku.

"Bebas yang menang yang ngasih hukuman." 

Hm... Kalo aku tolak pasti di bilang cemen sama dia, "Oke deal!" 

Raffi mengacungkan kelingkingnya, lalu kukaitkan kelingkingku. Kami langsung menaiki wahana histeria.

"5...4...3...2...1"

WUSSS!!!! Bangku kami terlempar ke atas. Aku merasa nyawaku tertinggal di bawah. Lalu, bangku kami kembali ke bawah, lalu ke atas lagi beberapa kali. Setelah itu turun dan selesai.

Aku gak sadar tadi aku merem atau enggak pas di atas. Jantungku terasa ingin putus.

"Gimana? Asik kan?" tanya Raffi.

Aku hanya diam sambil masih mengatur nafasku.

Kami berjalan ke tempat mencetak foto yang di wahana ini. Saat melihat foto kami,

BENAR SAJA! Aku merem. Aku udah duga sih.

"HAHAHAHA LO KALAH!" kata Raffi mengejekku.

"Huh...." 

Raffi masih tertawa terpingkal-pingkal, terlintas ide di otak ku.

"Aduh Raffi...." aku memegangi kepalaku dan pura-pura pingsan.

Ku dengar suara Raffi, "Gigi, eh lo kenapa? Yah masa pingsan sih. Please bangun dong. Yah maaf ya gue maksa lo naik histeria. Sebenernya gue tau lo takut ketinggian. Gigi maaf....." sambil menepuk-nepuk pelan pipi & tanganku.

"Gue janji deh gak bakal ngasih hukuman lo. Tapi lo yang ngehukum gue. Bangun dong. Gigi...." 

HAHA. Kata-kata yang aku tunggu.

"OKE DEAL! LO YANG GUE HUKUM." kataku langsung terbangun.

"Dih apaansih lo pura-pura pingsan gitu. Orang udah panik tau gak?" omel Raffi.

"Kan cuma bercanda, lagian lo ketawa mulu." kataku.

"Ya tapi gak lucu sampe pura-pura pingsan gitu!"

Aku diam mendengar nada bicara Raffi yang super marah. "Maaf..."

Raffi pergi meninggalkan aku. Aku mengejarnya. "Raffi ih maafin gue..." 

Raffi menghentikan langkahnya, "WLEEE KENA JUGA HAHAHAHAHA!" 

Watde...... Argh! Ternyata Raffi cuma bohongin aku. Aku hanya memasang muka beteku.

"Hahahaha lagian ngerjain gue sih lo" kata Raffi. 

Aku diam meliriknya kesal.

"Udah ah ayok main yang lain." ajak Raffi.

"Ettt... Lo harus tepatin omongan lo yang tadi dulu. Gue boleh ngehukum lo." kataku.

"Ya enggak dong. Kan lo pura-pura. Berarti tetep lo yang dapet hukuman." 

"Dih tapikan lo udah janji." tagihku.

Ku lihat Raffi berfikir, "Hm.... Oke, tapi...." Raffi menunjuk pipinya.

Ya, Aku tau maksudnya. "ENGGAK!" 

"Yaudah gak mau." kata Raffi.

"Raffi mahhh...." aku ngambek.

CUP! Satu kecupan Raffi mendarat di pipiku. Aku yakin mukaku memerah. Daridulu Raffi memang sering mencium pipi atau keningku. Tapi dari dulu juga muka ku langsung memerah saat Raffi menciumku. 

"Cie mukanya merah cie..." Ledek Raffi.

Aku menutup mukaku, "Udah kan? Sekarang lo gendong gue terus beliin gue eskrim." 

"Bener ya?!" tanya Raffi lalu langsung mengangkatku dan berlari menuju toko yang menjual eskrim. 

"Aaaaa!!! Raffi!!!!" Bukan gendong seperti ini maksudku.

"Kan minta gendong." kata Raffi sambil berlari.

"Awas Raffi ih nanti jatoh." 

Kami sampai di toko eskrim. 

"Hosh... Capek ey" kata Raffi mengatur nafasnya.

Lalu kami pun makan eskrim.

Setelah selesai kami kembali bermain wahana lainnya. Lalu tiba-tiba Caca menelponku menyuruh kami bertemu di salah satu tempat makan disana. Kami pun kesana, dan ternyata sudah ada Caca, Barry, Nanas dan Nissya. Kami memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu.

Setelah kenyang, kami beristirahat sebentar lalu bermain wahana yang lain. Sekarang ber 6. Dari wahana yang extreme sampai yang biasa saja kami mainkan.

Menjelang malam. Kami sedang duduk di salah satu restaurant untuk sekedar minum. Lalu Raffi tiba-tiba menarik tanganku.

"Sebentar ya gue sama Gigi ada urusan." kata Raffi kepada yang lain.

"Mau kemana sih, Fi?" tanyaku sambil masih terus berjalan mengikuti Raffi. 

"Udah ikut aja." 

Kami sampai di salah satu wahana bernama 'Bianglala' wahana seperti kincir angin raksasa. 

"Naik ini?" tanyaku.

Raffi hanya mengangguk lalu membawaku naik ke dalam wahana.

Dari bawah, tempat kami sampai ke atas. Di atas sangat sejuk. Sunset pun mulai terlihat. Pas di atas bangku kami di hentikan. Itu kami manfaatkan untuk foto-foto.

Setelah banyak berfoto ria. Raffi menggenggam tanganku. Mukanya seperti ingin mengatakan sesuatu. Matanya serius menatap mataku.

Raffi mencium kedua punggung tanganku.

"Gue sayang banget sama lo, Gi!" 

DEG! Aku diam. Ku cerna kata-kata Raffi di otakku. Mulutku kaku untuk berbicara.

"Daridulu gue selalu nyaman bareng sama lo." kata Raffi.

Aku masih diam. Raffi langsung memelukku.

Lagi dan lagi. Pelukan Raffi selalu nyaman aku rasakan. Aku merasa sangat terlindungi dalam pelukan Raffi. 

"Aku sayang sama kamu!" ucap Raffi sambil menempelkan keningku dengan keningnya dan memegang kepala ku.

Aku merasakan tatapan Raffi yang serius. Tanpa terasa aku meneteskan air mataku.

"Kenapa nangis?" tanya Raffi lirih sambil mengusap air mataku.

Raffi kembali memelukku. Ku balas pelukan Raffi, "Aku juga sayang sama kamu!" 

Raffi langsung menatapku, dan tersenyum.

Setelah selesai naik wahana bianglala, kami pun kembali menemui Caca, Barry, Nanas, dan Nissya lalu bergegas pulang.

>>>>>

Siang itu aku melihat banyak orang tergesa-gesa menuju lobby kampus.

Aku sedang berjalan di kampus dengan Kia & Jeje. Tiba-tiba...

"Gi, ini buat lo"

"Gi, nih"

"Nih"

"Terima ya Gi"

Banyak mahasiswa/i kampus memberiku bunga. Apa ini?

"Duh ada apaan sih ini?" Aku heran.

"Gatau Gi, itu di lobby rame kenapa ya?" Kia bertanya balik.

"Mana gue tau. Ayo coba kesana"

Aku berjalan ke arah kerumunan orang. Semua membuka jalan untukku. Sampai aku di tengah-tengah. Terdapat banyak sekali bunga, dan bertuliskan 'GIGI, WOULD YOU BE MY GIRLFRIEND?'

Aku tambah heran. Siapa yang buat ini semua? Raffi?

To Be Continued...

Hayo kira-kira siapa ya yang nyatain cinta ke Gigi? Hm... Penasaran? Tunggu di part selanjutnya ya teman-teman! Thanks for reading!