Heloooooo!
Cerbung pertama gue ini judulnya "You're My Future". Tadinya gue mau post kalo emang udah clear 100%. Tapi yaudahlah gue putusin buat post sekarang walaupun masih 60%. Gue harap semoga pembaca suka sama cerbung gue ini. Maaf kalo ada yang salah kata / kurang di mengerti, maaf juga kalo ada sedikit sama-sama. Karna gue bikin cerbung ini juga inspirasinya dari cerbung-cerbung anak RANS yang lain.
Ini percobaan dulu ya di Part-1. Kalo kalian suka gue akan lanjut,tapi kalo gak suka nanti gue coba cari topik lain. Oke?
Happy Reading!
"Pulang gak lo?" tanya seorang pria.
Dia temanku dari kecil sampai sekarang. Kami dekat, karna kakek ku dan kakeknya berteman dan akhirnya menurun ke mamaku dan mamanya bersahabat karib dari SMP hingga sekarang. Persahabatan mereka sangat hebat.
"Iya bentar" jawabku.
"Buruan. Gue ambil mobil, lo tunggu di depan. Kalo pas gue udah di depan lo gak ada, gue tinggal"
"Gue duluan yaaa" pamitku kepada teman-teman.
Namaku Nagita Slavina, biasa dipanggil Gigi. Teman kecil ku tadi, Raffi Ahmad atau Raffi. Pria jutek, namun perhatian. Juga tampan.
Aku berjalan menuju luar lobby kampus.
"Huh, tadi suruh gue buruan taunya lo yg dateng lama" gerutuku saat Raffi datang.
"Bawel lo" ucapnya ketus.
Aku dan Raffi sudah kenal sejak di bangku SD. Namun kami masih sering bertengkar hingga di universitas sekarang. Keluarga kami cukup akrab, hm mungkin sangat akrab. Dia ku anggap seperti kakak ku. Tapi malah akhirnya orang tua kami memutuskan untuk menjodohkan kami setelah Raffi wisuda nanti. Tentu kami tidak ada berfikiran untuk berumah tangga, namun kamipun tidak bisa menolak perjodohan itu sekalipun masing-masing dari kami punya pacar. Karna itu juga wasiat dari Kakek ku dan Kakeknya. Setiap hari pun aku berangkat&pulang kampus bersama Raffi. Aku tidak diperbolehkan pergi/pulang bersama orang lain. Begitu juga dengan Raffi.
"Awas lo besok jemput gue telat" cetusku.
"Mana pernah sih gue telat" Raffi menyombongkan diri. Ya, dia memang sangat suka membanggakan dirinya. Huh.
"Yeee. Tadi aja hampir"
"Ya tapikan HAMPIR" Dia sangat keras kepala.
Aku pun memutuskan untuk diam daripada harus berdebat (lagi) dengannya.
Akhirnya kami sampai di rumahku.
"Assalamualaikum..." ucap aku&Raffi.
Keluarga kami memang sangat dekat. Sudah tidak ada canggung di antara kami. Tapi entah kenapa, dari dulu aku&Raffi selalu saja bertengkar.
"Waalaikumsalam..." jawab Mama Rieta.
Beliau Mamaku. Wanita terhebat menurutku. Semenjak Mama cerai dengan Papa, Mama mengurus serta membesarkan aku dan kedua adikku sendirian. She is perfect!
Seperti biasa, sampai rumah aku langsung mengganti pakaianku menjadi baju santai.
10 menit kemudian, aku kembali ke bawah.
Terlihat Mamaku sedang berbicara dengan Raffi.
"Gimana? Masih jutek Giginya?" tanya Mama pada Raffi.
"Ya gitu deh ma" jawab Raffi.
WHAT?! He needs a mirror!
"Heh! Mirror please Raffi!" Semburku gak terima di bilang jutek sama Raffi, karna Raffinya pun jutek.
Raffi menjulurkan lidahnya padaku. Dia meledekku.
"Ckck... Mau sampe kapan lagi kalian" Mama tertawa melihat kelakuan ku dan Raffi. Aku akui memang kelakuan kami sangat childish.
"Yaudah deh ma, Raffi pulang dulu ya" pamit Raffi.
"Iya, hati-hati" ucap Mama.
"Gi, gue balik. Besok awas lo kesiangan gue tinggal" ucap Raffi kepadaku.
"Iya bawel lo jambul"
Aku sangat suka meledek Raffi dengan sebutan 'jambul'. Ya, model rambutnya memang ada jambulnya. Tapi menurutku, itu yang membuatnya tampak keren.
"Ye songong lu." Dia mengacak-acak rambutku, that's his hobby.
"Assalamu'alaikum" ucap Raffi setelah mencium tangan Mama dan berhasil membuat rambutku berantakan. Huh.
Raffipun pulang ke rumahnya.
>>>>>
"Gi, buruan. Gue tinggal nih ya" ucap Raffi setengah berteriak memanggilku yang berada di lobby, aku melihat Raffi sudah di depan lobby dengan mobil lamborghini putihnya.
"Iya sebentar ihhh"
Saat aku berjalan menuju mobil Raffi, Raffi langsung pergi meninggalkanku.
"RAFFIII!!! Ih gue bilang mama biarin aja" aku berteriak kesal.
Jengkel. Raffi emang ngeselin.
"Ayok Gi pulang bareng gue"
Aku memandangnya. Tidak asing. Pria itu bernama Kelvin, teman satu kampusku.
"Eh Kelv, gimana ya....."
Bukannya aku gak mau pulang bareng dia, tapi emang aku harus pulang bareng Raffi, ya RAFFI.
"Udah yuk gapapa. Nanti gue yang bilang ke Mama lo" Kelvin meyakinkan seakan tau isi otakku.
Oke, karna Raffi yang MENJENGKELKAN akhirnya aku pulang bersama Kelvin.
Motor Kelvin melesat kencang mengimbangi mobil Raffi. Dan motor Kelvin berada persis di sebelah mobil Raffi.
"Eh gue bilangin mama lo pulang sama orang lain selain gue" ucap Raffi ketika melihatku bersama Kelvin.
Damn! Dia aneh!
"Lah lo yang tinggalin gue. Ntar gue yang bilang sama mama, biar di goreng lo sama Mama" ledek ku setengah kesal.
"Iya juga ya. Eh stop stop!!!!" Raffi langsung menempatkan mobilnya di depan motor Kelvin.
Kelvin pun mengerem mendadak.
"Sini turun lo. Ngapain si balik sama dia. Sama gue" Raffi langsung menuntunku turun dari motor Kelvin.
"Ye gila! Lo sendiri yang tinggalin gue, malah gue yang di giniin"
Heran, mungkin Raffi salah makan.
"makasih ya, Kelv" ucapku kepada Kelvin.
"ehhh! ngapain natap-natap sambil senyum-senyum" Raffi langsung menutup mataku.
"Ihhh stres!"
Kamipun pulang.
Di perjalanan...
"Ke rumah gue dulu ah" ujar Raffi.
"Yaudah" aku hanya menurut.
Akhirnya kami tiba dirumah mewah yang udah gak asing lagi menurutku. Rumah Raffi.
"Gue aduin lo sama mama, tadi pulang sama cowo lain" Raffi langsung berlari memasuki rumahnya.
What the........ Apa-apaan coba si Raffi mau ngadu sama Mamanya, padahalkan dia yang mulai duluan tadi ninggalin aku. Pantesan Raffi pulang ke rumahnya dulu, ternyata mau ngadu ke Mama. Hih....
"Ehh kalian baru nyampe udah lari-larian ada apaan sih?" Mama Amy keheranan.
Mama Amy, Mamanya Raffi. Udah ku anggap seperti Mamaku sendiri. Dia juga wanita hebat menurutku, sama seperti Mama. Dia membesarkan ke tiga anaknya sendiri, setelah suaminya meninggal. Ya, Raffi anak yatim.
"Ma tadi Gigi pulang sama cowok lain tuh ma. Goncengan naik motor lagi" adu Raffi ke mamanya.
Oh God! He's so childish!
"Ih itu gara-gara Raffi ninggalin Gigi ma" Tentu saja aku membela diriku.
"Duhh kalian, baru pulang aja udah berantem. Hayo yang bener yang mana? Jujur sama mama" Mama Amy menengahi.
Kami berdua diam.
"Iya tadi Affi iseng ninggalin Gigi. Tapikan bukan berarti Gigi pulang bareng yang lain" Raffi mengaku sambil masih membela.
"Yeee Affi, terus Gigi pulangnya sama siapa kalo Affi tinggalin?" tanya Mama Amy.
Semua keluarga Raffi&keluargaku memanggil Raffi dengan sebutan 'Affi'. Dulu akupun memanggilnya seperti itu, namun sekarang menurutku tidak cocok panggilan 'Affi' dipakai oleh seorang badboy seperti Raffi. It's too cute for him.
"Ya kan Affi cuma bercanda, nanti juga Affi balik ke kampus" ucap Raffi.
"Ah terserah Affi deh, udah sini pada makan"
HAHAHA Raffi, I'm win! Aku tersenyum senang karna Mama Amy tidak begitu mempermasalahkan ini.
Kami pun makan bersama.
"Nissya sama Syahnaz belom pulang ma?" tanyaku.
Nissya dan Syahnaz adalah adik Raffi, Nissya di bawah Raffi dan Syahnaz yang paling muda. Aku juga memiliki dua adik, Caca dan Gavrel.
"Belom pulang tuh. Kalo si Nanaz tadi masuk siang, jadi sampe sore" jawab Mama Amy.
Aku hanya mengangguk sambil melanjutkan makanku.
Setelah selesai makan, aku memutuskan untuk menonton tv, sedangkan Raffi.... Entah. Dia langsung hilang, mungkin main PS. Itu hobbynya yang menurutku paling bagus. Karna hobbynya yang lain....... Membuatku jengkel.
>>>>>
Aku melirik jam di tanganku. Udah jam 3 sore, lama-lama aku juga mulai ngantuk, hm aku pulang deh.
"Ma, Gigi pulang dulu ya" pamitku kepada Mama Amy.
"Oh mau pulang sekarang? Yaudah sana panggil Affi di atas" jawab Mama Amy.
"Yaudah Gigi ke atas dulu ya ma"
Aku pun naik ke lantai dua rumah Raffi. Benar dugaan ku tadi, Raffi sedang bermain PS.
"Fi, gue mau pulang" ucapku sambil duduk di samping Raffi.
"Yaudah sana" Raffi masih terus bermain game bolanya.
Huh..... Dia terlalu asik.
"MAMA, RAFFI GAMAU AN...." Aku setengah berteriak ngadu ke Mama Amy. Xixi.
Raffi langsung membekap mulutku.
"Iya bentar bawel. Ini sekali lagi" ucap Raffi lalu melanjutkan gamenya.
"Yaudah 15 menit"
Aku merasa kantukku bertambah 35% menunggu Raffi.
15menit kemudian...
"Raffi ayuk udah 15 menit nih" ucapku sambil tetap menatap layar hpku.
Tidak ada jawaban dari Raffi. Tiba-tiba aku merasa ada yang bersandar di pundakku. Aku melirik ke samping, dan benar. Raffi tertidur.
Aku menepuk pelan pipi Raffi, berharap dia bangun dari tidurnya. Tapi dia tidak bangun juga.
Oh great, aku harus menunggu Raffi bangun dari tidurnya, dan tanpa ku sadari aku ikut terlelap dalam tidur.
>>>>>
Aku merasa ada yang memainkan rambutku dan mengusap pelan pipiku. Aku terbangun, terlihat ada Raffi disampingku. Tertanya dia.
"Gi... Bangun..."
Aku yang baru benar-benar sadar mulai mengerjap-ngerjapkan mataku.
"Eh... Lo udah bangun? Udah mandi juga?" tanyaku melihat Raffi sudah rapih.
"Iyalah, lo gimana malah tidur" jawab Raffi ketus.
"Ye tadikan lo tidur eh gua juga ikutan tidur. Gak jadi pulang kan gue" ucapku mengeluarkan jutek ku juga.
"Mandi dulu sana"
"Yaudah gue mandi dulu"
Aku pun mandi. Dan berganti pakaian dengan pakaianku yang ada sebagian di rumah Raffi. Lalu aku kembali ke Raffi.
"Udah?" tanya Raffi sambil masih asik memainkan hpnya.
"Udah, yuk"
Setelah pamit kepada Mama Amy, aku pulang di antar Raffi.
>>>>>
Keesokan harinya...
-09:00-
"Assalamu'alaikum..." terdengar suara samar seorang pria, Raffi.
Raffi sudah datang, dan aku masih memakai sepatu kets ku. Huh pasti nanti Raffi ngedumel karna aku lama.
Setelah rapih, aku turun.
"Dohhh Miss Dandan lama banget siiii" ucap Raffi meledekku.
Benar kan? Sudah ku duga.
"Ha? Apa? Miss Dandan? Gue mah CANTIK NATURAL"
"Halah, udah ayok ah"
"Dih gue belom sarapan" kilah ku. Salah ku juga sih padahal ngampus jam 9, tapi dari pagi aku belum makan.
"Lagian kelamaan dandan sih lo ah" kata Raffi. "udah makan di cafe kampus aja"
"Bener makan ya? Awas lho sampe enggak" Mama Rieta meyakinkan Raffi. "Affi temenin dia makan dulu nanti"
"Iya ma. Udah yok Gi. Affi berangkat ya Ma"
Kami pamit kepada Mama Rieta dan pergi menuju kampus.
Di perjalanan...
"Tumben lo bawa Alphard" Tanya ku heran saat melihat Raffi membawa Mobil Alphard nya saat pergi ke kampus. Biasanya dia bawa mobil sportnya.
"Suka-suka gue" jawab Raffi ketus.
"Yeee orang ngomong baik-baik" it's so damn.
"Iya Gigi sayangkuuuuu" ucap Raffi.
Heleh. Dia emang sering mengucapkan kata 'sayang'. Aku tidak mengetahui maksudnya, hanya untuk meledek, gombal atau....hm i don't know.
Sesampainya di kampus...
"Lo ada jam kapan?" tanya Raffi.
"1 setengah jam lagi, tapi gue mau ketemu dosen dulu"
"Yaudah masih lama, ayok makan dulu"
Raffi berjalan sambil menarik tanganku.
"Gak. Gue sama temen gue aja" kilahku. Aku tidak mau selera makanku rusak karna nya.
"Apaan sih. Tadi gak denger kata Mama Rieta? 'Raffi temenin Gigi makan ya' tuh" ucap Raffi sambil meniru kata-kata Mamaku tadi pagi.
"Lagian lo kuliah udah siang masih aja belom makan dari rumah" lanjut Raffi.
"BAWEL!!!" Aku langsung berjalan menuju cafe.
"Ngapain lo masih diem disitu? Oh gak jadi temenin gue makan? Yaudah" lanjutku saat melihat Raffi diam di tempatnya.
"Yeeee dasar. Sini lo" tiba-tiba Raffi berlari dan langsung menarik tanganku mengajakku berlari.
Kami pun berlari sampai Cafe sambil tangan Raffi masih menggenggam tanganku.
"Hahahaha capek ah Raffi...hosh...hosh..." Ucapku sambil berusaha mengatur nafas.
Seketika mimik wajah Raffi berubah saat memandangku, aku tidak tau apa yang dipikirkannya, namun senyum Raffi mengembang di wajahnya.
"Fi? Woy? RAFFIIII!!!!" Aku berteriak di telinga Raffi. Xixi.
"Ha? WOYYYY BUDEG GUA" Raffi menimpali.
"Siapa suruh bengong" aku menjulurkan lidahku dan langsung memasuki Cafe.
-RACINTA CAFE-
"Lu mau makan apaan?" tanya Raffi.
Aku melihat-lihat menu makanan. Pilihanku tertuju pada Cordon Blue with French Fries. Seperti chicken nugget dan di tambah dengan kentang goreng.
"Kok malah kentang? Nasiiiii" ujar Raffi memarahiku.
"Terserah gue, gue maunya kentang" Entah mengapa aku sedang sangat ingin kentang goreng.
"Dih dibilangin ye, lo belom makan. Nasi pokonya nasi! Nanti maag lo kambuh Gi. Sok bule lo ah makan kentang"
"ENGGAK!"
"Hehh... Yaudah. Mas, Cordon blue nya 2, yang satu pake kentang, yang satu lagi pake nasi. Minumnya hot chocolate 2" ucap Raffi kepada pelayan cafe.
Lalu pelayan itu pun pergi.
Aku tersenyum senang akhirnya Raffi mengalah.
"Yeee seneng lo seneng" ujar Raffi ketus.
"Iya dong hehe. Jangan bilang mama ya Raffiiii"
"Gak. Nanti gue bilangin mama" kata Raffi.
"Ih.... Plissss ya ya?" mohonku.
"Oke, kalo lo sakit gue bakal bilang mama. Tapi kalo lo ga sakit gue ga akan bilang mama" Raffi membuat perjanjian.
"Oke. Gue janji gabakal sakit. Makasi Raffi" aku langsung mengacungkan kelingkingku ke Raffi sambil tersenyum senang.
"Oke. Nanti siang makan jangan lupa!" Raffi mengaitkan kelingkingnya ke jariku.
Yakan? Sebenarnya Raffi perhatian juga orangnya.
"Siap bos!"
>>>>>
-19:00-
"Raffi.... Raffi....." Entah kenapa nama dia yang ku panggil saat aku siuman.
To Be Continued.....
Gigi siuman? Emangnya Gigi kenapa ya? Tunggu part 2 nya ya, Guys!
Thanks for reading! Gimana part-1nya? Suka? I hope u like it! Tolong tinggalin komentar ya suka/gasukanya, mau di lanjut atau gimana. Saran juga boleh. This is just fanfiction. No Baper yapsss! Di bikin asik aja broooo!👌🏼
www.twitter.com/chalifiaaa