Kamis, 08 Oktober 2015

You're My Future: Part 9.

Heyyaaaa!

I'm comeback. Cie banget kan nge-post nya cepet HAHA. Soalnya ini udah mau mulai masuk-masuk ending. Jadi udah gak sabar mau ganti cerbung baru. 

Yuk langsung aja yang udah gak sabar, sokin yuuu. Happy Reading!:))


Aku langsung menuju lantai 2. Setelah menemukan toko yang di maksud Teh Shanty tadi, aku melihat kedalamnya. Benar saja, banyak sepatu yang memang lagi trend disini. Setelah mendapat pilihan yang cocok bagiku, aku kembali berkeliling mall itu. Cukup lama, sampai tiba-tiba...

"Kemana aja sih? Dicariin juga."

Aku menoleh. Raffi? Yakin dia nyariin aku? Aku langsung berjalan lagi, tidak enak kalo harus berdebat sama dia di mall kayak gini.

"Gigi.... Lo belom jawab pertanyaan gue." kata Raffi dibelakangku.

"Sejak kapan gue harus laporan sama lo kalo mau pergi?" tanyaku ketus.

"Sejak dulu." 

Aku masih terus berjalan.

"Timezone yuk, Gi?" ajak Raffi.

Dia lagi kenapa sih hari ini.

"Bukannya lo sibuk sama temen-temen lo?" tanyaku sinis.

"Oh jadi ngambek nih karna gue tinggal mulu?" goda Raffi sambil mencolek daguku.

Huh...

"Yuk ah..." ajak Raffi lalu menarik pelan tanganku menuju timezone.

Aku hanya mengikutinya. Sampai di depan timezone...

"Sejak kapan lo boleh pegang tangan gue duluan?" tanyaku ketus sambil melihat tangan Raffi yang menggenggam tanganku.

"He? O-oh sorry..." Raffi langsung melepas tangannya.

Aku langsung masuk ke dalam timezone diikuti oleh Raffi.

Raffi dengan mudah membuat suasana cair kembali. Nyaman. Kira-kira 2 jam aku & Raffi asik bermain di timezone. 

"Masih ada yang mau dicari?" tanya Raffi ketika aku & dia sedang berjalan setelah bermain timezone.

Aku berpikir sejenak. Aku baru ingat disini ada Butiknya Uchi. Teman sd-ku. Dulu dia tinggal di Australia, lalu pindah ke Jakarta selama 5 tahun dan pindah lagi ke Bali.

Aku mengangguk, "Gue mau ke butik Uchi. Kalo lo mau duluan, duluan aja,"

"Gue temenin lo," kata Raffi. "Itung-itung permintaan maaf gue karna semalem gue tinggal lo,"

Oh ternyata dia menyadari kesalahannya.

"Ok terserah," kataku lalu berjalan menaiki eskalator.

Setelah naik 2 lantai, dan mencari butik berwarna pink. Ku lihat sosok familiar sedang duduk di dalam butik tersebut.

Ku buka pintu butik, "Uchi!!!"

"Gigi!!!"

"Aaaa! Kangen banget ihhh..." kataku langsung memeluk Uchi.

"Hahahaha sama nih... Btw, ini Raffi kan?" tanya Uchi melihat Raffi disampingku.

Aku mengangguk. Dan Raffi tersenyum menyalami Uchi.

"Hm... Wait, wait. Gue inget dari dulu lo deket banget. Dan sampe sekarang masih? Temenan? Sahabat? Atau pacaran?" tanya Uchi panjang lebar.

Raffi mengangkat tangan kanan-ku & tangan kanannya melihatkan cincin perkawinan kami.

Ku lihat Uchi menganga, "Lo berdua?"

Aku & Raffi tertawa.

"Iya kita udah nikah." jelas Raffi.

"What? HAHAHAHA berarti lo ke Bali honeymoon? Aaaaa.... Congrats yaaa! Jahat banget sih gue ga diundang." kata Uchi.

"Thankyou ya... Kan gue gatau kalo lo udah di Bali. Baru tau kemaren pas lo contact gue." jawabku.

Kami mengorol cukup lama dengan Uchi.

Setelah melepas kangen dengan Uchi, aku & Raffi kembali ke hotel.

Malam harinya.

"Gi, di ajak makan malem sama temen gue" ucap Raffi tiba-tiba.

"Gue juga?" Tumben banget Raffi ngajak aku.

"Iyalah. Dia juga bawa istrinya" jawab Raffi.

"Oh yaudah gue siap-siap dulu" 

Setelah siap, kami berangkat menuju restaurant yang sudah di sepakati menaiki mobil. Entah mobil siapa.

"Mobil siapa nih?" tanyaku heran.

"Temen gue. Ohiya, inget ya. Nanti disana pokoknya kita gak boleh berantem-berantem. Harus akur kayak pasutri bahagia." Raffi mengingatkan.

"Iya" Aku sudah mengerti maksud Raffi. Pasti teman Raffi mengira kami pasutri yang bahagia.

Kami pun sampai.

Raffi merangkulku dan meletakkan tanganku di pinggangnya. Aku hanya menurut. Kami pun berjalan ke dalam resto.

"Nah itu dia" 

"Loh? Teh Shanty?" Aku kaget melihat perempuan di samping teman Raffi.

"Gigi?" Aku cipika-cipiki dengan Teh Shanty.

"Lah udah kenal?" tanya teman Raffi, sepertinya aku kenal juga dengan teman Raffi. Tapi siapa ya?

"Baru ketemu di Mall tadi, Pi" jawab Teh Shanty memanggil suaminya dengan sebutan 'Pi' mungkin 'Papi'. Pasti mereka pasutri bahagia.

"Wah ganyangka. Jadi ini Gigi? Lo masih inget gue gak?" tanya teman Raffi yang ternyata tau namaku.

"Kayak familiar siapa ya?" tanyaku mulai mengingat-ngingat.

"Ini Denny. Temen kecil gu.... eh temen kecil aku yang. Kamu dulu pernah kenal juga kan" ucap Raffi berbicara selembut mungkin.

"Oh kang denny? Wahhh.... Udah lama banget gak ketemu" Aku ingat, dan langsung cipika-cipiki dengan Kang Denny. Kang Denny teman kecil Raffi. Dulu pernah kenal juga sama aku sebelum akhirnya dia nikah & menetap di Bali.

"Kirain Gigi belum punya suami. Mukanya masih imut banget hahaha" puji Teh Shanty.

Kami pun makan malam sambil mengobrol. Perlahan-lahan acara makan malam itu membuat suasana aku & Raffi mencair. Karena kami memang harus akur malam ini.

Setelah selesai makan kami pulang.

>>>>>

Esoknya, 17:00.

Aku baru bangun dari tidur siangku dan melihat Raffi tertidur di sampingku.

Kayaknya sejuk banget nih ya kalo ke pantai.

Ku buka pintu menuju balkon dan kolam renang sekaligus pantai. Hotel ini emang bagus banget!

Whoa sejuk banget. Ke pantai ah.

Aku ganti pakaianku dengan pakaian santai dan langsung pergi ke pantai.

>>>>>

Tiba-tiba penglihatanku gelap. Ada yang menutup mataku dari belakang.

"Siapa nih?" tanyaku kaget. Aku memberontak dan melihat ke belakang. 

Raffi.

"Apansih lo" aku jutek.hihi.

"Jutek banget sih lo, huuu" ujar Raffi sambil menyipratiku dengan air pantai.

"Raffi basah.... Ngeselin banget sih lo" 

Argh!

"Siapa suruh jutek" Raffi masih terus menyipratiku.

"Ih ngeselin lo ya" Ku balas menyiprati Raffi.

"Coba sini kalo bisa" Raffi meledekku.

"Sini lo...." Aku terus menyiprati Raffi.

Kami pun bermain di pantai sampai matahari ingin tenggelam.

"Eh liat itu sunset bagus banget" tunjuk Raffi. 

Aku yang sedang duduk di pasir langsung melihatnya.

"Bagus banget" ujarku sambil terus menatap sunset itu.

Raffi duduk di sebelahku. Sekarang kami sudah basah karna cipratan air pantai yang kami buat.

"Bagus banget ya?" tanya Raffi.

Aku tidak menjawab, hanya tersenyum dan menyenderkan kepalaku di pundak Raffi.

Pelan-pelan suasana semakin mencair antara kita berdua.

Raffi mengajakku berdiri.

"Makasih udah temenin gue main di pantai" ujar Raffi.

Aku lihat senyum tulusnya mengembang di bibirnya. Aku hanya tersenyum.

"Hm.... Gi...." ucap Raffi terbata.

"B-b-b.....boleh peluk gak?" Raffi gugup.

Peluk? Raffi kenapa tiba-tiba minta peluk?

"Gak salah kan? Gue udah izin" tanya Raffi.

"Buat apa?" aku tersipu.

"Ya peluk aja. Ya boleh ya?" Raffi memohon.

Aku mengangguk pelan.

Raffi langsung mendekapku dengan erat. Di dalam dekapan Raffi, Aku bisa merasakan detak jantung Raffi. Aku balas pelukan Raffi. Jujur aku merindukan pelukan hangat ini. Tidak terasa air mataku pun menetes. Lama sekali kami berpelukan.

Ku benamkan wajahku di pundak Raffi. Tidak terasa aku mulai sesenggukan.

"Lo kenapa nangis?" tanya Raffi, mungkin ia sadar aku mulai sesenggukan.

Tangisku tambah deras.

"Gi, kenapa?" Raffi mulai panik.

"Enggak, pelukan lo sama kayak pelukan Papa. Gue jadi kangen." Aku menghapus air mataku. "Udah yuk, balik ke hotel. Gue capek" 

"Lo capek?" Raffi langsung mengangkatku dengan kedua tangannya dan berlari menuju hotel.

"Aaaa Raffiiiiii" Aku kaget, langsung teriak dan memeluk Raffi.

"Hosh...hosh.... Aduh capek gue" ucap Raffi sambil menurunkanku dari gendongannya.

"Siapa suruh lari-lari" ujarku dan langsung memasuki kamar mandi untuk bersih-bersih.

Setelah Aku selesai mandi, giliran Raffi yang mandi.

>>>>>

Aku duduk di sofa sambil memainkan hpku.

"DORR!" jerit Raffi yang baru selesai mandi. Ia teriak di dekat telinga-ku.

"Ra--" Aku yang kaget langsung menoleh ke Raffi seketika berhenti teriak. 

Kini wajahku dan Raffi sangat dekat. Raffi mulai mendekatkan kepalanya lagi, Aku hanya diam memejamkan mataku. Hidung kami mulai bersentuhan.....

Dan....

Tiba-tiba handphoneku berdering. Aku merasa tangan Raffi menahan tanganku yang mau mengangkat telpon. Tapi Aku memberontak, dan menjauhkan kepalaku dari Raffi. Aku langsung pergi ke balkon untuk mengangkat telponku.

>>>>>

Keesokan harinya, 16:00.

Kayaknya berenang enak nih, adem.

Kubuka pintu balkon, Wah sejuk banget. Berenang ah. 

Aku langsung mengganti pakaianku dengan pakaian renang. Mana Raffi? Entahlah.

Beberapa menit aku berenang. Kadang duduk menikmati pemandangan pantai, lalu berenang lagi.

Saat Aku sedang berenang (menyelam) tiba-tiba mukaku berpapasan dengan muka Raffi. Entah darimana ia datang.

Sama-sama menyelam.

Raffi menggenggam erat kedua tanganku. Aku hanya diam.

Raffi langsung mengecup bibirku di dalam air. Aku yang awalnya diam, mulai merasakan hangatnya kecupan Raffi. Pelan-pelan ku balas dan nikmati kecupan Raffi.

Cukup lama kami melakukan First Kiss. Kurasa nafasku sudah tidak kuat lagi, langsung aku berdiri ke darat dan mengatur nafasku. Dua detik kemudian aku langsung berenang menuju tepi kolam.

Raffi langsung menahan tanganku.

"Gi, Gigi, please...." ujar Raffi memohon.

"Please..... Gue tau pasti lo menginginkan ini juga" Raffi masih memohon.

Raffi masih menggenggam tanganku. Dan mulai menarikku pelan. Pelan-pelan aku mulai menuruti tangan Raffi, aku mulai mendekat lagi dengan Raffi. Mulai dekat, Raffi langsung memelukku. 

"Maaf gue udah ngelanggar perjanjian, setelah ini terserah lo mau gimana gue ikhlas"

Kubalas pelukan hangat Raffi. Cukup lama kami berpelukan. Raffi mulai mendekatkan bibirnya dengan bibirku. Aku hanya memejamkan mataku.

CUP.

Kami kembali melakukan French Kiss. Cukup lama, lalu Raffi mengangkatku kembali ke kamar dalam keadaan basah dan meletakkan ku di kasur.

"Sekali lagi gue minta maaf. Cowok mana yang tahan sekamar gak ngapa-ngapain sama cewek cantik kayak lo. Lagian, kita kan udah sah. Dan setelah ini, terserah kalo lo mau gugat gue juga gapapa" 

Raffi mulai melakukan aksinya. Aku yang awalnya diam tidak merespon apa-apa, akhirnya mulai mengikuti permainan Raffi.

Pagi harinya....

Tanpa kami sadari, kami tidur sangat dekat, kasur berantakan, sudah tidak ada lagi bantal penghalang di kasur kami.

Raffi tersenyum di depan mukaku, "Makasih banyak buat semalem, Gi" ucap Raffi.

Aku kaget dan langsung duduk.....

To Be Continued. 

Maaf ya agak dewasa. Thanks for reading:)).

www.twitter.com/chalifiaaa

Rabu, 07 Oktober 2015

You're My Future: Part 8.

Hallooooo!!!

Duhhh kangen banget udah lama gak nge-post. Maaf ya semuanyaaaa! Masih ada yang mau baca cerbung gue kan? Hihi... Yuk langsung aja sokin!

Happy Reading.:)

H-15 Pernikahan.

Aku lebih memilih untuk putus dengan Kelvin, karena aku tidak mau menggantung hubunganku begitu saja.

Raffi dengan Cindy? Entahlah. 10 hari terakhir aku lihat ia sering bersama, terkadang Cindy ikut pulang bersamaku saat Raffi menjemputku. Tapi akhir-akhir ini, setiap Raffi menjemputku, Cindy tidak pernah ikut.

>>>>>

17 Oktober 2014.

Hari ini pernikahan Aku & Raffi akan di langsungkan. Terlihat Raffi sudah siap duduk di depan penghulu.

Setelah penghulu mengucapkan ijab nya, Raffi menjawab dengan lantang.

Kami pun telah SAH sebagai pasangan suami istri.

Malamnya Aku & Raffi tidur di rumah yang memang di siapkan Raffi dari bertahun-tahun lalu untuk keluarga kecilnya.

"Itu kamar lo" tunjuk Raffi ke salah satu kamar. Aku sudah menduga kami akan pisah kamar. Entah sampai kapan. Bukan ini rumah tangga yang aku idam-idamkan.

Aku langsung menuju kamar itu. Sedangkan Raffi memilih kamar lain.

Sudah 3 hari aku dan Raffi menjadi pasangan suami-istri. Namun, tidak ada yang spesial dari hubungan kami. Kami pisah kamar, paginya aku hanya membangunkan Raffi lalu menyiapkan makanan & pakaian untuk dia kerja. Ya, kami tidak ada honeymoon. Aku memutuskan untuk langsung kuliah, sedangkan Raffi ke kantor. Setiap hari Raffi mengantar & menjemputku ke kampus. 

"Raffi, bangun cepet. Mama dateng dan dia tau kalo kita pisah kamar. Raffi cepet bangun!!!" ujarku sambil menepuk-nepuk pipi Raffi.

"Apasiiiii" Raffi hanya menggumam.

"Itu ada Mama di bawah, dia tau kalo kita pisah kamar!" ucapku panik.

"Hah? Serius?" Raffi langsung terbangun.

"Iya. Terus nanti kita bilangnya apa dong?" tanyaku cemas.

"Ya pokoknya di depan Mama kita harus mesra, jangan cuek-cuekan. Nanti gue yang bilang Mama" ujar Raffi.

"Tapi...." 

"Udah cepet" Raffi langsung menarik tanganku.

Sampai di tangga, kami memulai drama.

"Aduh sayang aku masih ngantuk nih..." ucap Raffi sambil merangkulku.

"Ini udah siang Raffi, ada Mama. Buruan cuci muka" aku juga ikut drama.

"Anterin dong nanti aku nabrak" 

Aku antar Raffi ke kamar mandi.

"Awas lo jangan macem-macem, modus aja lo" Aku memberi peringatan.

"Bawel lo udah ayok keluar" 

Kami duduk di sofa.

"Kalian pisah kamar?" tanya Mama Amy.

"Hm... Itu ma, semalem kan Gigi udah ngantuk, trus Affi mau beres-beres kamar dulu kan. yaudah Affi suruh dia tidur duluan di kamar lain. Eh pas Affi beres-beres kamar, Affi malah ketiduran" jawab Raffi, bohong.

"Bener? Kalian gak ada masalah kan?" tanya Mama Rieta.

"Enggak kok Ma, ya kan Fi?" 

"Iya, biasa aja Ma" jawab Raffi sambil mencium keningku, mungkin hanya untuk memastikan kepada Mama.

"Oke kalo gitu. Ohiya, Mama ada hadiah buat kalian" 

Mama Amy & Mama Rieta mengeluarkan satu amplop.

Aku & Raffi membukanya.

"KE BALI?!" jerit aku & Raffi saat membuka amplop yang berisi dua tiket pesawat tujuan Bali. Omaygat.

"Iya. Kalian seneng kan? Tadinya Mama mau pesen yang ke luar negeri, tapi belom ada waktu yang pas. Yaudah dalem negeri aja dulu" 

"Kayaknya Affi gak bisa deh Ma, Affi kan harus kerja. Gigi juga kuliah kan?" elak Raffi.

"Iya Gigi kan kuliah" 

"Udah pokoknya kalian berangkat besok!" perintah Mama Amy & Mama Rieta.

Aku & Raffi pasrah.

Malam harinya, setelah selesai mengepack barang untuk besok, Aku yang sedang memainkan hpku di kamar dikejutkan oleh Raffi yang tiba-tiba datang dan langsung tiduran di atas kasur.

"Eh eh... Ngapain lo masuk kamar sini?naik ke kasur lagi" tegurku.

"Tidur lah" 

"Ini kan kamar gue. Lo disana" 

"Udah sah gini. Dulu aja belom sah gue boleh masuk kamar lo" 

"Enggak enggak, sana ah" 

"Ahelah ngantuk Gi. Emang lo mau besok ketauan Mama lagi kita tidur pisah kamar? Lagian kan udah suami istri, emang kenapa" bela Raffi. Itu hanya akal-akalan dia saja.

Hhh....

Aku mengambil sebuah bantal & selimut, dan memutuskan untuk tidur di sofa yang juga berada di kamarku.

"Di sini aja kenapa sih Gi" tegur Raffi.

"Udah lo aja di kasur, gue di sofa" 

Aku pun tertidur.

>>>>>

Keesokan paginya.

"Hoam....." Aku terbangun dari tidurku, dan kaget melihat Raffi yang tidur disebelahku hanya menggunakan celana boxer.

Tadi malem kan aku tidur di sofa. Raffi yang pindahin aku?

"Woy bangun! Lo ga apa-apain gue kan?" jeritku membangunkan Raffi.

"Apansi ah ngantuk gue" 

"Lo apain gue semalem ha?" 

"Gak gue apa-apain. Palingan gue sentuh dikit" jawab Raffi santai lalu tidur lagi.

"HAH?! RAFFI GUE SERIUS!" jeritku lagi lebih kencang.

"Gue juga serius. Gapapa kan gue sentuh dikit? Banyak juga boleh kan udah sah" Raffi masih memejamkan matanya.

"RAFFIIIIII!!!!!!!" 

"Busetdah, gak gue apa-apain yaAllah. Takut amat sama suami sendiri"

"Ngeselin banget sih lo!" 

"Udah ah gue mau tidur lagi. Eh sekarang jam berapa?"

"Mana gue tau" 

Tiba-tiba....

"RAFFI GIGI KALIAN BELOM PADA SIAP? INI UDAH JAM SET 8! PESAWAT KALIAN BERANGKAT JAM 10!"

Raffi langsung terbangun dari tidurnya, Aku langsung berdiri kaget.

"OIYA! MAMPUS GUE" ujar Raffi.

"IYA MA KITA UDAH MANDI KOK" jawab Raffi bohong.

"Gue mandi duluan" ujarku langsung berlari ke kamar mandi.

"Eh! Enggak. Bareng biar cepet" ucap Raffi sekenanya.

"Enak aja lo" 

"Biar cepet. Emang lo mau telat?"

Modus! 

"Heh. Emang kamar mandi di rumah segede ini cuma satu? Banyak! Sono lo tempat lain" Aku langsung masuk ke kamar mandi. 

-Bandara Internasional Soetta, 09:30-

"Yaudah buruan kalian masuk, 30 menit lagi" ucap Mama Rieta.

"Jangan lupa pesenan kita ya!" kata Mama Amy & Mama Rieta sambil meledek kami. Aku tau maksudnya, Mama-mamaku itu ingin cucu dari aku & Raffi.

Setelah pamit ke Mama Rieta & Mama Amy, Aku & Raffi langsung masuk ke ruang tunggu pesawat.

Sambil minum teh, kami menunggu pesawat.

"Bikinin teh kali suaminya" ucap Raffi ketika melihatku membawa segelas teh.

"Bikin aja sendiri. Tinggal seduh doang aja manja amat" jawabku jutek.

"Jutek amat si lo" Raffi memasang muka betenya dan membuat teh sendiri.

Beberapa menit kemudian, kami masuk ke pesawat dan menuju Bali.

Sesampainya di Bali...

"Trus kita kemana?" tanyaku. "Coba liat amplop"

Raffi membuka amplop yang di berikan oleh Mama.

"Alila Villas Soori, Bali. Taksi aja deh" ujar Raffi sambil membaca salah satu kertas di amplop tersebut.

Kami pergi menaiki Taksi.

Alila Villas Soori, Bali.

Kami pergi menuju bagian resepsionis, dan menunjukkan kertas bookingan kamar yang di pesan oleh Mama Rieta & Mama Amy.  Tanpa menunggu lama kami sudah mendapatkan ruangan kami.

Ruangan cukup besar. 1 kamar tidur: AC, tv & tempat tidur besar. 1 dapur kecil & meja makan kecil. 1 kamar mandi: wastafel, bath tub, shower, kloset. 1 ruang tamu: sofa & tv. 1 balkon menuju kolam renang pribadi dan pemandangan pantai. Amazing!

Aku langsung menuju kamar untuk berberes pakaian mereka, lalu mandi. 

"Eh, pakaian masih kotor juga malah naik-naik ke kasur. Sana mandi dulu kek kalo gak ganti baju" tegurku yang baru keluar kamar mandi saat melihat Raffi tidur di kasur.

"Bawel lo. Ngantuk gue" 

"Heh. Buruan!" 

"Dohhhh iya iya" Raffi berdiri lalu membuka bajunya, saat ia ingin melepas celananya....

"WOYYYY!!! Kamar mandi kali. Seenaknya aja lo buka di sini" jeritku langsung menutup mataku.

"Busetdah, sia-sia amat gua ngucapin ijab qobul" ucap Raffi lalu memasuki kamar mandi dan berganti pakaian.

"Yeay tidurrrrrr!!!!" Raffi langsung melompat ke kasur setelah keluar dari kamar mandi.

"Sofa depan ada noh" tegurku lagi.

"Ha? YaAllah Gi. Tega amat si lo sama suami. Sono lo aja yang di sofa" gerutu Raffi.

"Oke. Kita buat perjanjian" ku ambil satu guling dan meletakkan di tengah-tengah kasur, lalu mengambil sebuah kertas dan menuliskan sesuatu di kertas itu.

"PERJANJIAN RAFFI GIGI. Kami yang bertanda tangan di bawah ini berjanji:
1. Tidak akan menyentuh anggota badan yang di anggap DILARANG oleh hubungan bukan suami istri, satu sama lain.
2. Tidak akan melewati batas kasur ketika tidur.
Jika kami melanggar perjanjian ini, masing-masing dari kami boleh menggugat cerai dan tidak ada penolakan dari pihak lain." ucapku membacakan tulisan yang ku buat.

"Lo gila? Gaboleh nyentuh anggota badan yang di anggap dilarang oleh hubungan bukan suami istri? Kita ini apa? Suami istri kan? Ya boleh lah. Trus gaboleh ngelewatin batas kasur? Lo kira kalo tidur itu nyadar?" Raffi tidak terima.

"Raffi.... Gini ya. Seperti yang sering lo bilang kalo pernikahan kita cuma pernikahan di atas kertas, bukan dari hati. Dan tentang batas kasur, kasur ini gedeeeeee. Gue yakin sih gak bakal ngelewatin kalo emang lo tidurnya bener. Lo keberatan? Kalo lo keberatan sama aja lo ngelanggar ini, jadi gue boleh gugat lo" jelasku.

"Oke oke. Siapa takut. Tapi gue minta tambahan di bawahnya: Perjanjian ini bisa di batalkan jika dari dua belah pihak menyetujui untuk di batalkan." 

"Oke! Perjanjian di mulai detik ini" 

Setelah tanda tangan di bawah perjanjian itu, aku menempelnya di dinding.

"Oiya satu lagi, perjanjian itu ga berlaku buat lo. Jadi lo boleh ngelewatin batas kasur, boleh sentuh gue." ujar Raffi.

"Oke terserah lo" 

Keesokan harinya, Raffi masih tertidur. Aku putuskan untuk menyiapkan sarapan untuk aku & dia. Ya, sebagai kriteria istri yang baik, aku tidak pernah lupa menyiapkan sarapan untuk Raffi. 

Siangnya, Raffi baru terbangun dari tidurnya. Ia langsung menuju kamar mandi dan meja makan. Setelah makan ia pergi. Entah kemana. Aku tidak peduli.

Hingga malam hari, Raffi belum juga kembali ke hotel.

Argh, mana sih Raffi? Aku jengkel. Dia juga tidak memberi kabar apapun. Jujur sebenernya aku takut sendirian di kamar hotel yang cukup besar ini. 

Telfon atau enggak ya? Ah gengsi lah. Entar dikira aku nyariin dia lagi. Udah lah. Mending aku tidur.

Paginya...

Aku baru bangun dari tidurku. Raffi mana ya? Apa dia gak pulang seharian? Aku keluar dari kamar dan mendapati Raffi yang sudah rapih & menyiapkan roti.

"Nih gue udah siapin sarapan" ucap Raffi.

Aku memandang heran, "lo kasih jampe-jampe apa nih?" 

"Hhh... Terserah lo deh mau makan atau enggak" Raffi beranjak ingin keluar.

Serius Raffi nyiapin ini buat aku?

"Eee..... Mau kemana lo? Kemaren juga kemana seharian?" tanyaku.

"Sejak kapan urusan gue jadi urusan lo juga?" Raffi jutek.

"Dih yaudah. Makasih banyak deh buat rotinya" ujarku sinis.

Raffi tersenyum. "Gue mau ketemu temen dulu."

Raffi kenapa sih? Tiba-tiba jutek, tiba-tiba senyum.

Raffi berjalan menuju pintu.

"E.... Fi...." 

Raffi menoleh.

"Lo eng....gak makan?" tanyaku sedikit gengsi.

Raffi tersenyum lagi, "Udah"

Akhirnya Raffi pergi. aku dibuat bingung sendiri dengan sikap Raffi. Mungkin dia butuh obat.

Ah Raffi kemana sih. Honeymoon apaan kayak gini. Gue malah di tinggal mulu. Ah mending gue shopping. Aku memutuskan untuk pergi ke mall yang dekat dengan hotel tempat kami menginap.

>>>>>

"Eh maaf mbak, maaf ya" ujar seorang wanita tidak sengaja menabrakku.

"Eh iya gapapa kok mbak hehe" kataku.

"Lagi liat-liat apa mbak?" tanya perempuan itu.

"Nyari sendal mbak, Mbak sendiri?" 

"Mau pulang nih. Suami ku udah nunggu didepan" jawab perempuan itu.

"Oalah udah bersuami. Mukanya masih awet muda ya hehe" pujiku ramah.

"Hahaha mbak bisa aja. Namanya siapa mbak?" 

"Hm, gausah panggil mbak hehe. Panggil aja Gigi" ujarku menyalami perempuan itu.

"Gausah panggil mbak juga ya, panggil aja teh Shanty" kata Teh Shanty.

"Ohh orang Sunda. Okedeh."

"Oiya aku duluan ya, btw kamu lagi cari sendal kan? Ada tuh yang terkenal di lantai 2. Naik dari eskalator sini aja trus sebelah kanan" kata Teh Shanty ramah.

"Wah iya. Makasih ya, Teh. Hati-hati di jalan."

Aku langsung menuju lantai 2. Setelah menemukan toko yang di maksud Teh Shanty tadi, aku melihat kedalamnya. Benar saja, banyak sepatu yang memang lagi trend disini. Setelah mendapat pilihan yang cocok bagiku, aku kembali berkeliling mall itu. Cukup lama, sampai tiba-tiba...

To Be Continued.

Maaf ya gak panjang-panjang banget. Sebenernya gue mau post panjang di part ini. Tapi pas gue mau copy, taunya malah ke-delete. Alhasil harus ngulang lagi kan. Jadi potongannya bakal gue post di part selanjutnya. Thankyou bgt nihhh buat yang udah setia nunggu cerbung gue. Gue bakal usahain buat ngepost cepet kok.:) Thanks for reading!

www.twitter.com/chalifiaaa